Perseteruan Netizen Indonesia dan Malaysia Memanas, dari Hinaan Frans Kaisiepo hingga Seruan Boikot Produk

Perseteruan netizen Indonesia dan Malaysia memanas usai FIFA ASEAN Cup 2026, mulai dari penghinaan terhadap Frans Kaisiepo di uang Rp10.000, unggahan celana dalam merah putih, hingga seruan boikot produk Indonesia.

Imam Adam
Imam Adam
Perseteruan Netizen Indonesia dan Malaysia Memanas, dari Hinaan Frans Kaisiepo hingga Seruan Boikot Produk

Uang Rp10.000 dihina oleh netizen malaysia Rabu (7/10/2026)(352_IDN)

Perseteruan warganet Indonesia dan Malaysia di media sosial kembali menjadi sorotan setelah sejumlah unggahan kontroversial muncul usai persaingan kedua negara dalam FIFA ASEAN Cup 2026. Polemik tersebut tidak lagi sebatas sepak bola, tetapi merembet ke penghinaan terhadap pahlawan nasional, unggahan yang dianggap melecehkan bendera Merah Putih, hingga seruan boikot produk Indonesia.

Kontroversi pertama muncul setelah akun Threads yang disebut berasal dari Malaysia, @pablo_yamii, mengunggah foto uang pecahan Rp10.000 yang menampilkan pahlawan nasional Frans Kaisiepo dan menyamakannya dengan karakter Thanos dari film Avengers, sehingga memicu kecaman warganet Indonesia yang menilai tindakan tersebut merendahkan sosok berjasa dalam sejarah bangsa.

Polemik berikutnya muncul ketika sebuah akun Threads mengunggah gambar celana dalam berwarna merah putih dengan tulisan bernada ejekan, yang kemudian dianggap sebagian warganet Indonesia sebagai penghinaan terhadap simbol kebangsaan; unggahan tersebut juga dikaitkan dengan dugaan bahwa pemilik akun merupakan seorang guru taman kanak-kanak di Malaysia, meskipun identitas dan profesinya belum terverifikasi secara independen, sementara akun yang bersangkutan disebut telah memberikan klarifikasi bahwa akunnya diretas.

Ketegangan semakin meluas setelah seorang warganet Malaysia melalui Threads menyerukan boikot terhadap produk makanan dan minuman asal Indonesia yang beroperasi di Malaysia, dengan menyebut sejumlah merek seperti Kenangan Coffee, Ai-CHA Ice Cream & Tea, dan MOMOYO, sehingga perseteruan di media sosial turut menyeret pelaku usaha Indonesia yang menjalankan bisnis di negara tetangga tersebut.

Rangkaian kejadian ini memperlihatkan bagaimana rivalitas sepak bola dapat berkembang menjadi perselisihan yang menyentuh sejarah, simbol negara, dan kepentingan ekonomi, sehingga masyarakat di kedua negara diharapkan mampu menyampaikan kritik secara bijak tanpa menghina identitas bangsa lain atau menggeneralisasi tindakan sejumlah akun media sosial kepada seluruh warga Malaysia maupun Indonesia.

Berita Terkait